Selasa, 10 Juni 2014
Benda Mati yang Menjadi Saksi
Bendungan air yang lama telah kutahan akhirnya pecah menjadi butiran air yang jatuh diatas kain percaku berwarna hitam. Sungguh perasaan ku yang benar-benar tak karuan ini membuatku ingin berhenti bertarung dengan segala kejenuhanku.. Tak sanggup ku menahan segala amarah dan keraguan ku akan semua yang telah kubangun. Tak pernah kau sedikit mengerti apa maksud hati ini, apa maksud raut di wajah ini, apa maksud segala pilahan kata yang terungkap melalui alat ucapku.Di tengah malam ini terdengar jelas suara tangisan kecil yang menjadi suara pengantar tidur ku malam ini. Ingin ku rasa memendam diri kepada sebuah pelukan kecil yang aku sendiri tak mengerti akan mendapatkannya bagaimana. Sungguh hati ini tidak dapat menahan semua kerisauan dan kegundahan segala yang ada dibenak ini. Hanya dentingan dan isakan tangis yang bisa kuperdengarkan pada semua benda mati yang setia berada di tempatku beratap. Kekecewaan ku kini berada di sebuah titik puncak yang aku sedniri tak tahu mengapa aku berada di puncak setinggi ini, di puncak di mana aku tak pernah menyangka bahwa inilah aku, inilah kekecewaanku, dan inilah waktu di mana aku harus mencoba untuk siap bahwa mungkin ini adalah hari ku untuk melepas mu, melepas semua anganku akan cintamu. Kini aku hanya bisa terbaring lemah, bersama isakan tangisku yang diselimuti secarik kepedihan akan semua keadaan ini. Akankah aku bertahan atau aku hanya bisa pasrah dengan keadaan yang semakin lama menggerogoti hati ini? Terbaring dalam mimpi, dan akan kutemukan semua jawaban yang menjadi seorang peri kecilku untuk menghapus gundah dan lembab pada pipi ini.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar